WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang bagi Suster M. Felika Laia, SCMM., untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sebagai seorang biarawati, ia justru menemukan pengalaman belajar yang nyaman di lingkungan kampus Muhammadiyah yang terbuka terhadap keberagaman.
Sr. Felika merupakan anggota Kongregasi Suster-suster dari Maria Bunda yang Berbelaskasih dan kini tinggal di Komunitas Santa Sesilia Yogyakarta. Ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UAD angkatan 2024.
Keputusannya memilih UAD tidak terlepas dari keterbukaan kampus terhadap mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Menurut Sr. Felika, lingkungan UAD memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar dan berinteraksi tanpa menjadikan perbedaan suku, bahasa, maupun agama sebagai batas dalam kehidupan akademik.
“UAD sangat toleran dan menerima siapa saja yang kuliah di sini dengan berbagai keberagaman, baik itu suku, bahasa, maupun agama,” ujar Sr. Felika dalam keterangan tertulis, Selasa, 18/8/2026).
Pengalaman penerimaan tersebut semakin dirasakan Sr. Felika dalam aktivitas akademiknya. Salah satunya ketika ia tetap mengenakan pakaian kebiaraan selama mengikuti kegiatan perkuliahan.
Sebagai biarawati yang belajar di perguruan tinggi Islam, ia mengaku tidak merasa harus meninggalkan identitas keagamaannya ketika berada di lingkungan kampus.
“Sebagai biarawati yang tetap mengenakan pakaian kebiaraan di kampus Islam, saya merasa senang dan bisa belajar dengan nyaman karena saya diterima apa adanya,” jelasnya.
Ia menuturkan, pihak kampus tidak memaksanya mengikuti cara berpakaian yang berbeda dari identitasnya sebagai biarawati. Sikap tersebut membuatnya merasa dihargai dan dapat menjalani proses pendidikan dengan tenang.
“Saya tidak dipaksa menggunakan pakaian yang selayaknya digunakan oleh seorang Muslim, tetapi saya masih diperbolehkan tetap menggunakan jubah saya sebagai biarawati dan tetap studi di UAD. Itulah yang membuat saya senang dan bahagia, bahwa artinya saya tetap dihargai meskipun beda agama dengan mereka,” ungkapnya.
Bagi Sr. Felika, penerimaan tersebut bukan hanya terlihat dari kebijakan atau lingkungan kampus, tetapi juga dirasakan dalam interaksi sehari-hari bersama dosen dan mahasiswa.
Ia mengaku mendapatkan respons yang baik sejak pertama kali mengikuti perkuliahan. Komunikasi yang terbuka juga membuat proses belajar bersama teman-teman seangkatan berlangsung dengan nyaman.
“Terkait dengan respons dosen dan teman-teman pas pertama kali dan selama kuliah bersama itu menyenangkan. Karena para dosen di UAD itu baik dan sangat toleransi sekali,” katanya.
Sr. Felika juga berusaha membangun hubungan yang baik dengan teman-teman di lingkungan perkuliahan. Ketika menghadapi kesulitan, ia memilih menyampaikannya secara terbuka agar dapat mencari solusi bersama.
“Kalau saya mengalami kesulitan, saya terus terang mengatakannya kepada mereka,” ujarnya.
Bagi Sr. Felika, pengalaman berkuliah di UAD bukan hanya tentang mendapatkan pendidikan akademik. Lebih dari itu, lingkungan kampus memberinya pengalaman langsung mengenai bagaimana perbedaan dapat hadir berdampingan dalam ruang pendidikan.
Setiap hari, ia merasakan interaksi dengan dosen dan mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda. Dari sana, rasa saling menghargai menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjalani studi. Pengalaman tersebut pula yang membuatnya merekomendasikan UAD kepada calon mahasiswa dari berbagai latar belakang.
“Pengalaman saya selama di UAD menyenangkan. Mari kuliah di UAD, kuliahnya seru karena para dosen dan teman-teman sangat menyenangkan dan mereka sangat menghargai perbedaan,” tuturnya.
Be the first to comment