UM Bandung Jadi Pilihan Zakiatun Wujudkan Mimpi Jadi Apoteker

Menjemput Mimpi Menjadi Apoteker, Zakiatun Memilih Bertumbuh Bersama UM Bandung (Sumber: Humas UM Bandung).***

WARTAPTM.ID, BANDUNG – Bagi setiap calon apoteker, perjalanan menuju profesi bukan sekadar meraih gelar, tetapi proses menemukan tempat terbaik untuk bertumbuh. Hal itulah yang dirasakan oleh Zakiatun Nufus saat memilih melanjutkan pendidikan profesi di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.

Lulusan cumlaude Program Studi Farmasi STIK Siti Khadijah Palembang dengan IPK 3,57 itu menilai bahwa keputusan memilih kampus profesi merupakan langkah penting dalam membentuk kompetensi sebagai tenaga kesehatan.

Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, perempuan yang akrab disapa Kia tersebut menjatuhkan pilihan pada Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) UM Bandung. Ia melihat kualitas dosen sebagai salah satu kekuatan utama kampus.

Menurutnya, latar belakang akademik dan pengalaman profesional para dosen menjadi bekal penting dalam membimbing mahasiswa menghadapi dunia kerja.

“Saya melihat dosen-dosen di UM Bandung memiliki latar belakang pendidikan yang sangat baik. Itu menjadi salah satu alasan saya yakin kuliah di sini,” ungkapnya.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya menerima teori, tetapi juga diajak berdiskusi kasus nyata serta memahami tantangan dunia praktik kefarmasian.

Kia menilai, keunggulan UM Bandung tidak hanya terletak pada aspek akademik. Kampus juga memberikan penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang membentuk etika profesi mahasiswa.

“Kami tidak hanya belajar tentang obat dan pelayanan kefarmasian, tetapi juga dibekali pemahaman agama yang berkaitan dengan etika profesi,” tuturnya.

Bagi Kia, nilai tersebut menjadi bekal penting karena apoteker akan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Saat ini, Kia tengah menjalani Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit Jiwa Cisarua. Kegiatan tersebut menjadi jembatan antara teori di bangku kuliah dan praktik nyata di lapangan.

Selain itu, ia juga mempersiapkan diri menghadapi Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI). Menurutnya, proses tersebut didukung penuh oleh dosen melalui pembekalan, pendampingan, hingga diskusi intensif.

“Kami tidak dilepas begitu saja. Ada pembekalan dan pendampingan sebelum praktik maupun menghadapi UKAI,” ujarnya.

Kia meyakini bahwa profesi apoteker memiliki prospek karier yang luas, mulai dari rumah sakit, puskesmas, industri farmasi, hingga instansi pemerintah seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Ia pun mengajak lulusan Sarjana Farmasi untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan profesi sebagai langkah penting menuju karier profesional.

“Kalau ingin berkarier sebagai apoteker, jangan ragu melanjutkan pendidikan profesi. Peluangnya sangat luas,” katanya.

Bagi Kia, pendidikan profesi bukan sekadar jalan menuju gelar, tetapi proses membentuk kompetensi, integritas, dan tanggung jawab sebagai tenaga kesehatan.

Di Universitas Muhammadiyah Bandung, ia menemukan lingkungan belajar yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga menumbuhkan keyakinan untuk menjadi apoteker profesional yang bermanfaat bagi masyarakat.

Be the first to comment

Leave a Reply