WARTAPTM.ID, TANGERANG – Seni tidak hanya menjadi ruang untuk mengekspresikan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi media untuk membangun karakter, menanamkan nilai spiritual, serta menumbuhkan kepekaan sosial dan kebangsaan.
Pandangan tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Desri Arwen, dalam General Lecture pada penutupan Festival Drama Ajang Kreatif (FESDRAK) ke-21 yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMT di Gedung Kesenian Kota Tangerang, Minggu (9/8/2026).
Dalam kuliah umum tersebut, Desri mengangkat tema mengenai hubungan antara kesenian dan iman. Menurutnya, kesenian memiliki ruang yang luas untuk menjadi bagian dari proses pendidikan karakter karena di dalamnya terdapat kreativitas, nilai, pengalaman, dan proses interaksi antarmanusia.
Karena itu, seni tidak semestinya dipandang hanya sebagai pertunjukan atau kompetisi. Proses berkesenian juga dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memahami kehidupan, bekerja bersama, serta membangun kepekaan terhadap lingkungan sosial.
Pemaknaan tersebut sejalan dengan penyelenggaraan FESDRAK yang telah memasuki tahun ke-21. Festival tahunan FKIP UMT tersebut tidak hanya mempertemukan mahasiswa dalam kompetisi seni drama, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran melalui proses kreatif dan kerja kolektif.
FESDRAK ke-21 diikuti 12 kelompok teater dengan total 285 mahasiswa pemeran dari berbagai program studi di lingkungan FKIP UMT. Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta menampilkan berbagai pementasan yang mengangkat isu sosial, budaya, dan persoalan kehidupan masyarakat.
Pengalaman tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan seni peran sekaligus belajar mengenai penyusunan cerita, penyutradaraan, kerja tim, dan bagaimana sebuah persoalan sosial diterjemahkan ke dalam karya seni.
Dekan FKIP UMT, Sumiyani, mengatakan FESDRAK tidak semata-mata diarahkan sebagai ajang kompetisi. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa mengembangkan kreativitas sekaligus kemampuan bekerja sama.
“Kami berharap melalui FESDRAK, mahasiswa tidak hanya terampil dalam seni peran, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung kesuksesan acara ini,” ujarnya.
Menurut Sumiyani, keberlangsungan FESDRAK hingga penyelenggaraan ke-21 menunjukkan bahwa seni dapat menjadi salah satu ruang pembelajaran yang terus relevan bagi mahasiswa.
Melalui proses produksi dan pementasan drama, mahasiswa dituntut untuk berkomunikasi, berbagi peran, menyelesaikan persoalan bersama, serta bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting, khususnya bagi mahasiswa FKIP yang dipersiapkan menjadi calon pendidik. Kompetensi akademik perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membangun relasi, memahami persoalan sosial, dan memiliki karakter yang kuat.
Penutupan FESDRAK ke-21 juga ditandai dengan pengumuman para pemenang dari berbagai kategori. Rektor UMT Dr. Desri Arwen kemudian menyerahkan Piala Umum Rektor UMT kepada kelompok yang berhasil meraih predikat Juara Umum.
Penyerahan penghargaan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas, kerja keras, dan dedikasi mahasiswa selama mengikuti rangkaian festival.
Untuk kategori grup, penyerahan piala turut dilakukan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Boyke Urif Hermawan, yang hadir dalam acara penutupan.
Bagi UMT, apresiasi tersebut bukan hanya diberikan atas hasil akhir kompetisi, tetapi juga terhadap proses panjang yang dijalani mahasiswa dalam menghasilkan sebuah karya.
Melalui FESDRAK, FKIP UMT terus membuka ruang bagi mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman kreatif. Seni dan budaya ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang dapat memperkaya kemampuan akademik sekaligus membentuk karakter.
Be the first to comment