WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menegaskan bahwa pengembangan bisnis Muhammadiyah harus berorientasi pada kemandirian ekonomi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, aktivitas ekonomi Persyarikatan tidak boleh berhenti pada kepentingan internal, tetapi harus menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan kemakmuran umat dan bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam Grand Launching Mentari Bayt Coin (MBC) dan Aktivasi Aplikasi MASKITA di Grha Suara Muhammadiyah, Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026).
Haedar mengatakan keterlibatan akademisi, termasuk para rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), dalam pengembangan bisnis dan investasi syariah menjadi bagian dari perkembangan gerakan intelektual Muhammadiyah.
“Baru kali ini para guru besar urusannya dengan pendapatan, yang biasanya urusannya pendapat. Sekarang mereka maju pada fase baru: ingin banyak pendapat sekaligus juga pendapatan. Itulah guru besar berkemajuan namanya,” ujar Haedar.
Menurut Haedar, keterlibatan kalangan akademisi dalam aktivitas ekonomi dapat memperluas peran intelektual Muhammadiyah. Pengetahuan yang berkembang di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan gagasan, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi ikhtiar ekonomi yang memperkuat kemandirian.
Haedar menjelaskan, aktivitas ekonomi bukan hal baru dalam sejarah Muhammadiyah. Sejak awal berdirinya, Persyarikatan memiliki tradisi kemandirian ekonomi dan tumbuh di tengah lingkungan masyarakat yang memiliki aktivitas kewirausahaan.
Ia menyebut KH Ahmad Dahlan sebagai salah satu teladan dalam membangun kemandirian melalui aktivitas perdagangan. Tradisi tersebut kemudian berkembang seiring pertumbuhan Muhammadiyah di berbagai daerah yang memiliki basis kewirausahaan masyarakat.
“Pondasi wirausaha Muhammadiyah itu kuat sejak zaman dahulu. Semangatnya adalah memperkokoh pergerakan Islam dengan landasan bahwa mukmin yang kuat jauh lebih baik dan dicintai Allah, serta tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” katanya.
Menurut Haedar, semangat kemandirian tersebut juga tercermin dalam perkembangan amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi. Kemandirian menjadi penting agar berbagai aktivitas Persyarikatan dapat terus berkembang tanpa bergantung pada pihak lain.
Namun, ia menekankan bahwa kemandirian ekonomi Muhammadiyah tidak dimaksudkan untuk membangun kekuatan ekonomi yang hanya dinikmati internal organisasi.
“Muhammadiyah bikin sekolah, rumah sakit, hingga gerakan bisnis ekonomi bukan untuk Muhammadiyah, tapi untuk umat, untuk masyarakat, dan untuk bangsa,” tegasnya.
Haedar juga menekankan pentingnya orientasi sosial dalam pengembangan bisnis Muhammadiyah. Menurutnya, kegiatan ekonomi Persyarikatan perlu ditempatkan sebagai bagian dari usaha membangun kesejahteraan masyarakat.
“Kita bangun semangat berbisnis yang berorientasi sosial untuk kesejahteraan masyarakat. Insyaallah, pergerakan bisnis Muhammadiyah tidak akan jadi oligarki, karena orientasinya adalah kemakmuran rakyat,” paparnya.
Karena itu, pengembangan bisnis perlu berjalan bersama dengan integritas dan tanggung jawab sosial. Prinsip tersebut menjadi penting ketika Muhammadiyah memasuki bidang usaha yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam.
Haedar mengingatkan agar setiap aktivitas ekonomi tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Ia merujuk pada prinsip ihsan dalam Al-Qur’an Surah Al-Qasas ayat 77 yang menekankan pentingnya berbuat baik dan tidak melakukan kerusakan di muka bumi.
“Muhammadiyah harus bisa jadi contoh menggali dan mengeksplorasi tanpa merusak. Berbuat ihsanlah, tapi jangan sekali-kali kamu merusak di muka bumi,” ujarnya.
Menurutnya, aktivitas eksplorasi yang berdampak pada pembukaan lahan harus disertai langkah pemulihan, reklamasi, dan rehabilitasi yang berbasis ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pengembangan ekonomi tidak dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dalam konteks tersebut, Haedar menempatkan peluncuran MBC sebagai salah satu langkah pengembangan aktivitas ekonomi Muhammadiyah. MBC merupakan entitas bisnis yang dikembangkan melalui inisiatif Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah bersama para rektor PTMA.
Kehadiran MBC diarahkan untuk mengembangkan layanan berbasis emas, sekaligus membuka ruang partisipasi ekonomi bagi warga Persyarikatan dan masyarakat.
Haedar juga tercatat sebagai pembeli pertama paket emas eksklusif MBC dalam agenda peluncuran tersebut.
Ia mengajak warga Persyarikatan dan masyarakat untuk membangun langkah ekonomi yang produktif dengan tetap menjaga integritas dan moralitas.
“Mari kita bangun langkah-langkah nyata untuk menyejahterakan dan memandirikan masyarakat. Semoga Allah senantiasa meratai dan meredai setiap ikhtiar kita,” pungkasnya.

Be the first to comment