WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali meneguhkan perannya dalam pengembangan keilmuan dan solusi atas persoalan bangsa melalui pengukuhan Fatwa Tentama sebagai guru besar dalam bidang Psikologi Kerja, Organisasi, dan Kewirausahaan, Sabtu (25/4/2026).
Pengukuhan yang berlangsung di Amphitarium Kampus IV UAD tersebut menjadi momentum penting lahirnya gagasan inovatif berbasis psikologi untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan, khususnya di kalangan generasi muda.
Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Early Detection Career Readiness System (EDCRS): Inovasi Psikologi dalam Mencegah Pengangguran Terdidik”, Prof. Fatwa menyoroti fenomena meningkatnya pengangguran terdidik di Indonesia yang justru banyak berasal dari lulusan pendidikan menengah dan perguruan tinggi.
“Ketidaksesuaian kompetensi antara lulusan dan kebutuhan pasar kerja menjadi salah satu penyebab utama rendahnya penyerapan tenaga kerja,” tegasnya.
Integrasi Ilmu dan Teknologi sebagai Solusi
Prof. Fatwa menjelaskan bahwa persoalan pengangguran tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan konvensional semata. Diperlukan integrasi antara ilmu psikologi dan teknologi informasi yang adaptif terhadap dinamika dunia kerja.
Ia menyoroti lulusan SMK yang secara konsisten mendominasi angka pengangguran nasional, meskipun dirancang sebagai tenaga kerja siap pakai. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan riil industri.
Dalam perspektif tersebut, Muhammadiyah melalui perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat solusi berbasis ilmu pengetahuan.
EDCRS: Deteksi Dini dan Penguatan Kompetensi
Sebagai bentuk kontribusi konkret, Prof. Fatwa mengembangkan Early Detection Career Readiness System (EDCRS), sebuah sistem pakar yang dirancang untuk mendeteksi sekaligus meningkatkan kesiapan karier generasi muda.
Sistem ini terdiri atas dua aplikasi utama, yakni ADWORS untuk mengukur kesiapan kerja dan EDERS untuk mengidentifikasi kesiapan berwirausaha.
“Sistem ini mampu memberikan laporan profil keahlian secara rinci, menyajikan peringkat keterampilan, hingga merekomendasikan pekerjaan atau jenis usaha yang sesuai dengan kemampuan pengguna,” jelasnya.
Melalui platform tersebut, pengguna juga dapat melakukan konsultasi langsung dengan pakar guna memperoleh arahan strategis dalam meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
Penguatan Generasi Z Berbasis AI dan VR
Dalam pengembangannya, EDCRS diarahkan untuk mengintegrasikan teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan Virtual Reality (VR). Integrasi ini diharapkan mampu menghadirkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
“Diperlukan integrasi teknologi ini secara strategis agar dapat menjadi sarana penguatan kesiapan kerja,” ungkapnya.
Inovasi ini menegaskan komitmen dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan. Dengan pendekatan berbasis ilmu dan teknologi, generasi muda diharapkan tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang melalui kewirausahaan.
Be the first to comment